Hadis Kiamat

Rasulullah s.a.w telah menjenguk kepada kami semasa kami sedang ingat mengingati satu sama lain, lalu Baginda s.a.w bertanya: "Apa yang kamu ingat mengingatkan itu?" Kami menjawab:"Kami mengingati perihal hari kiamat dan saat berlakunya"; Nabi s.a.w bersabda: "Sesungguhnya saat kiamat tidak akan berlaku melainkan setelah kamu melihat sebelumnya sepuluh alamat." Lalu Baginda s.a.w menyebut alamat atau tanda-tanda itu iaitu: Asap, Dajjal (orang yang menyembunyi dan mengubah keadaan perkara-perkara yang benar dengan perkataan dustanya atau perbuatan sihirnya) Dabbatul-Ardh, terbit matahari dari pihak masuknya (dari pihak barat),turunnya Nabi Isa anak Mariam, dan Ya'juj wa Ma'juj…"

Huzaifah bin Asid al-Ghifari r.a

Dari Ali, r.a, katanya Rasulullah s.a.w. bersabda; seseorang itu tidak menjadi mukmin sehingga ia beriman sekurang-kurangnya ia beriman kepada empat perkara, iaitu: Mengetahui dan meyakini bahawa tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan bahawa aku ialah Rasulullah yang mengutuskan aku membawa kebenaran dan percayakan mati yang memang ditetapkan masa dan caranya bagi tiap-tiap seorang , dan percayakan kebangkitan hidup semula sesudah mati serta percayakan kadar takdir yang ditentukan oleh Allah’.

Riwayat Tirmizi

Custom Search

Tuesday, November 30, 2010

Akankah Amalku Diterima?


Beramal shalih memang penting karena merupakan konsekuensi dari keimanan seseorang. Namun yang tak kalah penting adalah mengetahui persyaratan agar amal tersebut diterima di sisi Allah. Jangan sampai ibadah yang kita lakukan justru membuat Allah murka karena tidak memenuhi syarat yang Allah dan Rasul-Nya tetapkan.

Dalam mengarungi lautan hidup ini, banyak duri dan kerikil yang harus kita singkirkan satu demi satu. Demikianlah sunnatullah yang berlaku pada hidup setiap orang. Di antara manusia ada yang berhasil menyingkirkan duri dan kerikil itu sehingga selamat di dunia dan di akhirat. Namun banyak yang tidak mampu menyingkirkannya sehingga harus terkapar dalam kubang kegagalan di dunia dan akhirat.

Kerikil dan duri-duri hidup memang telalu banyak. Maka, untuk menyingkirkannya membutuhkan waktu yang sangat panjang dan pengorbanan yang tidak sedikit. Kita takut kalau seandainya kegagalan hidup itu berakhir dengan murka dan neraka Allah Subhanahuwata'ala. Akankah kita bisa menyelamatkan diri lagi, sementara kesempatan sudah tidak ada? Dan akankah ada yang merasa kasihan kepada kita padahal setiap orang bernasib sama?

Sebelum semua itu terjadi, kini kesempatan bagi kita untuk menjawabnya dan berusaha menyingkirkan duri dan kerikil hidup tersebut. Tidak ada cara yang terbaik kecuali harus kembali kepada agama kita dan menempuh bimbingan Allah Subhanahuwata'ala dan Rasul-Nya. Allah Subhanahuwata'ala telah menjelaskan di dalam Al Qur’an bahwa satu-satunya jalan itu adalah dengan beriman dan beramal kebajikan. Allah berfirman:

“Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, dan orang-orang yang saling menasehati dalam kebaikan dan saling menasehati dalam kesabaran.”
(Al ’Ashr: 1-3)

Sumpah Allah Subhanahuwata'ala dengan masa menunjukkan bahwa waktu bagi manusia sangat berharga. Dengan waktu seseorang bisa memupuk iman dan memperkaya diri dengan amal shaleh. Dan dengan waktu pula seseorang bisa terjerumus dalam perkara-perkara yang di murkai Allah Subhanahuwata'ala. Empat perkara yang disebutkan oleh Allah Subhanahuwata'ala di dalam ayat ini merupakan tanda kebahagiaan, kemenangan, dan keberhasilan seseorang di dunia dan di akhirat.

Keempat perkara inilah yang harus dimiliki dan diketahui oleh setiap orang ketika harus bertarung dengan kuatnya badai kehidupan. Sebagaimana disebutkan Syaikh Muhammad Abdul Wahab dalam kitabnya Al Ushulu Ats Tsalasah dan Ibnu Qoyyim dalam Zadul Ma’ad (3/10), keempat perkara tersebut merupakan kiat untuk menyelamatkan diri dari hawa nafsu dan melawannya ketika kita dipaksa terjerumus ke dalam kesesatan.

Iman Adalah Ucapan dan Perbuatan

Mengucapkan “Saya beriman”, memang sangat mudah dan ringan di mulut. Akan tetapi bukan hanya sekedar itu kemudian orang telah sempurna imannya. Ketika memproklamirkan dirinya beriman, maka seseorang memiliki konsekuensi yang harus dijalankan dan ujian yang harus diterima, yaitu kesiapan untuk melaksanakan segala apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya baik berat atau ringan, disukai atau tidak disukai.

Konsekuensi iman ini pun banyak macamnya. Kesiapan menundukkan hawa nafsu dan mengekangnya untuk selalu berada di atas ridha Allah termasuk konsekuensi iman. Mengutamakan apa yang ada di sisi Allah dan menyingkirkan segala sesuatu yang akan menghalangi kita dari jalan Allah juga konsekuensi iman. Demikian juga dengan memperbudak diri di hadapan Allah dengan segala unsur pengagungan dan kecintaan.

Mengamalkan seluruh syariat Allah juga merupakan konsekuensi iman. Menerima apa yang diberitakan oleh Allah dan Rasulullah Sholallohualaihiwasallam tentang perkara-perkara gaib dan apa yang akan terjadi di umat beliau merupakan konsekuensi iman. Meninggalkan segala apa yang dilarang Allah dan Rasulullah Sholallohualaihiwasallam juga merupakan konsekuensi iman. Memuliakan orang-orang yang melaksanakan syari’at Allah, mencintai dan membela mereka, merupakan konsekuensi iman. Dan kesiapan untuk menerima segala ujian dan cobaan dalam mewujudkan keimanan tersebut merupakan konsekuensi dari iman itu sendiri.

Allah berfirman di dalam Al Qur’an:
“Alif lam mim. Apakah manusia itu menyangka bahwa mereka dibiarkan untuk mengatakan kami telah beriman lalu mereka tidak diuji. Dan sungguh kami telah menguji orang-orang sebelum mereka agar Kami benar-benar mengetahui siapakah di antara mereka yang benar-benar beriman dan agar Kami mengetahui siapakah di antara mereka yang berdusta.”
(Al Ankabut: 1-3)

Imam As Sa’dy dalam tafsir ayat ini mengatakan:
”Allah telah memberitakan di dalam ayat ini tentang kesempurnaan hikmah-Nya. Termasuk dari hikmah-Nya bahwa setiap orang yang mengatakan “aku beriman” dan mengaku pada dirinya keimanan, tidak dibiarkan berada dalam satu keadaan saja, selamat dari segala bentuk fitnah dan ujian dan tidak ada yang akan mengganggu keimanannya. Karena kalau seandainya perkara keimanan itu demikian (tidak ada ujian dan gangguan dalam keimanannya), niscaya tidak bisa dibedakan mana yang benar-benar beriman dan siapa yang berpura-pura, serta tidak akan bisa dibedakan antara yang benar dan yang salah.”

Rasulullah Sholallohualaihiwasallam bersabda:
“Orang yang paling keras cobaannya adalah para nabi kemudian setelah mereka kemudian setelah mereka”
(HR. Imam Tirmidzi dari sahabat Abu Sa’id Al Khudri dan Sa’ad bin Abi Waqqas Radhiyallahu ‘Anhuma dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Shahihul Jami’ no.992 dan 993)

Ringkasnya, iman adalah ucapan dan perbuatan. Yaitu, mengucapkan dengan lisan serta beramal dengan hati dan anggota badan. Dan memiliki konsekuensi yang harus diwujudkan dalam kehidupan, yaitu amal.

Amal Amal merupakan konsekuensi iman dan memiliki nilai yang sangat positif dalam menghadapi tantangan hidup dan segala fitnah yang ada di dalamnya. Terlebih jika seseorang menginginkan kebahagiaan hidup yang hakiki. Allah Subhanahuwata'ala telah menjelaskan hal yang demikian itu di dalam Al Qur’an:

“Bersegeralah kalian menuju pengampunan Rabb kalian dan kepada surga yang seluas langit dan bumi yang telah dijanjikan bagi orang-orang yang bertakwa kepada Allah.”
(Ali Imran:133)

Imam As Sa’dy mengatakan dalam tafsirnya halaman 115:
“Kemudian Allah Subhanahuwata'ala memerintahkan untuk bersegera menuju ampunan-Nya dan menuju surga seluas langit dan bumi. Lalu bagaimana dengan panjangnya yang telah dijanjikan oleh Allah Subhanahuwata'ala kepada orang-orang yang bertakwa, merekalah yang pantas menjadi penduduknya dan amalan ketakwaan itu akan menyampaikan kepada surga.”

Jelas melalui ayat ini, Allah Subhanahuwata'ala menyeru hamba-hamba-Nya untuk bersegera menuju amal kebajikan dan mendapatkan kedekatan di sisi Allah, serta bersegera pula berusaha untuk mendapatkan surga-Nya. Lihat Bahjatun Nadzirin 1/169

Allah berfirman: “Berlomba-lombalah kalian dalam kebajikan” (Al Baqarah: 148)

Dalam tafsirnya halaman 55, Imam As Sa’dy mengatakan:
“Perintah berlomba-lomba dalam kebajikan merupakan perintah tambahan dalam melaksanakan kebajikan, karena berlomba-lomba mencakup mengerjakan perintah tersebut dengan sesempurna mungkin dan melaksanakannya dalam segala keadaan dan bersegera kepadanya. Barang siapa yang berlomba-lomba dalam kebaikan di dunia, maka dia akan menjadi orang pertama yang masuk ke dalam surga kelak pada hari kiamat dan merekalah orang yang paling tinggi kedudukannya.”

Dalam ayat ini, Allah dengan jelas memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk segera dan berlomba-lomba dalam amal shalih. Rasulullah Sholallohualaihiwasallam bersabda:
“Bersegeralah kalian menuju amal shaleh karena akan terjadi fitnah-fitnah seperti potongan gelapnya malam, di mana seorang mukmin bila berada di waktu pagi dalam keadaan beriman maka di sore harinya menjadi kafir dan jika di sore hari dia beriman maka di pagi harinya dia menjadi kafir dan dia melelang agamanya dengan harta benda dunia.”
(Shahih, HR Muslim no.117 dan Tirmidzi)

Dalam hadits ini terdapat banyak pelajaran, di antaranya kewajiban berpegang dengan agama Allah dan bersegera untuk beramal shaleh sebelum datang hal-hal yang akan menghalangi darinya. Fitnah di akhir jaman akan datang silih berganti dan ketika berakhir dari satu fitnah muncul lagi fitnah yang lain. Lihat Bahjatun Nadzirin 1/170 Karena kedudukan amal dalam kehidupan begitu besar dan mulia, maka Allah Subhanahuwata'ala memerintahkan kita untuk meminta segala apa yang kita butuhkan dengan amal shaleh. Allah berfirman di dalam Al Quran:

“Hai orang-orang yang beriman, mintalah tolong (kepada Allah) dengan penuh kesabaran dan shalat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar.”
(Al Baqarah:153)

Lalu, kalau kita telah beramal dengan penuh keuletan dan kesabaran apakah amal kita pasti diterima?

Syarat Diterima Amal Amal yang akan diterima oleh Allah Subhanahuwata'ala memiliki persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi. Hal ini telah disebutkan Allah Subhanahuwata'ala sendiri di dalam kitab-Nya dan Rasulullah Sholallohualaihiwasallam di dalam haditsnya. Syarat amal itu adalah sebagai berikut: Pertama, amal harus dilaksanakan dengan keikhlasan semata-mata mencari ridha Allah Subhanahuwata'ala. Allah Subhanahuwata'ala berfirman; Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan agar menyembah Allah dengan mengikhlaskan baginya agama yang lurus”. (Al Bayyinah: 5)

Rasulullah Sholallohualaihiwasallam bersabda:
“Sesungguhnya amal-amal tergantung pada niat dan setiap orang akan mendapatkan sesuatu sesuai dengan niatnya.”
(Shahih, HR Bukhari-Muslim)

Kedua dalil ini sangat jelas menunjukkan bahwa dasar dan syarat pertama diterimanya amal adalah ikhlas, yaitu semata-mata mencari wajah Allah Subhanahuwata'ala. Amal tanpa disertai dengan keikhlasan maka amal tersebut tidak akan diterima oleh Allah Subhanahuwata'ala.

Kedua, amal tersebut sesuai dengan sunnah (petunjuk) Rasulullah Sholallohualaihiwasallam. Beliau bersabda: “Dan barang siapa yang melakukan satu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalan tersebut tertolak.”
(Shahih, HR Muslim dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha)

Dari dalil-dalil di atas para ulama sepakat bahwa syarat amal yang akan diterima oleh Allah Subhanahuwata'ala adalah ikhlas dan sesuai dengan bimbingan Rasulullah Sholallohualaihiwasallam. Jika salah satu dari kedua syarat tersebut tidak ada, maka amalan itu tidak akan diterima oleh Allah Subhanahuwata'ala. Dari sini sangat jelas kesalahan orang-orang yang mengatakan “ Yang penting kan niatnya.” Yang benar, harus ada kesesuaian amal tersebut dengan ajaran Rasulullah Sholallohualaihiwasallam. Jika istilah “yang penting niat” itu benar niscaya kita akan membenarkan segala perbuatan maksiat kepada Allah Subhanahuwata'ala dengan dalil yang penting niatnya. Kita akan mengatakan para pencuri, penzina, pemabuk, pemakan riba’, pemakan harta anak yatim, perampok, penjudi, penipu, pelaku bid’ah (perkara-perkara yang diadakan dalam agama yang tidak ada contohnya dari Rasululah) dan bahkan kesyirikan tidak bisa kita salahkan, karena kita tidak mengetahui bagaimana niatnya. Demikian juga dengan seseorang yang mencuri dengan niat memberikan nafkah kepada anak dan isterinya. Apakah seseorang melakukan bid’ah dengan niat beribadah kepada Allah Subhanahuwata'ala adalah benar? Apakah orang yang meminta kepada makam wali dengan niat memuliakan wali itu adalah benar? Tentu jawabannya adalah tidak. Dari pembahasan di atas sangat jelas kedudukan dua syarat tersebut dalam sebuah amalan dan sebagai penentu diterimanya. Oleh karena itu, sebelum melangkah untuk beramal hendaklah bertanya pada diri kita: Untuk siapa saya beramal? Dan bagaimana caranya? Maka jawabannya adalah dengan kedua syarat di atas. Masalah berikutnya, juga bukan sekedar memperbanyak amal, akan tetapi benar atau tidaknya amalan tersebut. Allah Subhanahuwata'ala berfirman:

“Dia Allah yang telah menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian siapakah yang paling bagus amalannya.”
(Al Mulk: 2)

Muhammad bin ‘Ajlan berkata:
“Allah Subhanahuwata'ala tidak mengatakan yang paling banyak amalnya.”
Lihat Tafsir Ibnu Katsir 4/396 Allah Subhanahuwata'ala mengatakan yang paling baik amalnya dan tidak mengatakan yang paling banyak amalnya, yaitu amal yang dilaksanakan dengan ikhlas dan sesuai dengan ajaran Rasulullah Sholallohualaihiwasallam, sebagaimana yang telah diucapkan oleh Imam Hasan Bashri. Kedua syarat di atas merupakan makna dari kalimat Laa ilaaha illallah - Muhammadarrasulullah. Wallahu a’lam.

Thursday, November 25, 2010

Kajian Hadis Rasullulah Tentang Kiamat- Yakjud Makjud Part (3)


Persoalan 6: Bilakah Dajjal muncul?
Dajjal dilepaskan semasa zaman kehidupan Rasulullah saw, dan hadis memberitahu
Dajjal hidup selama 40 hari:
Tanya kami; “Berapa lamakah Dajjal akan tinggal di bumi?”, jawab Rasullullah:

“Selama empat puluh hari, satu hari sama seperti setahun, satu hari seperti sebulan,

 satu hari seperti seminggu dan selebihnya seperti hari-hari kamu sekarang”.Tanya

 kami; “Ya Rasullullah, ketika sehari seperti setahun, cukupkah kalau kami solat seperti

 solat sekarang ?”, jawab Rasullullah; “Tidak” tetapi hitunglah bagaimana pantasnya.
(HR Muslim)


Kesimpulan hadis ialah Dajjal hidup dalam 4 dimensi, iaitu:


                                                                        1 hari = Setahun

                                                                          1 hari=   Sebulan

                                                                         1 hari = Seminggu

                                                                   37 hari =  Seperti hari kita


Untuk lebih detail tentang perkara ini sila rujuk sini
Rujukan buku Jerusalem in the Quran menyatakan pembahagian tempoh seperti di
bawah:



                                               1 hari = Setahun = British = Pounnd

                                         1 hari = Sebulan = Amerika Syarikat = Dollar


                                    1 hari = Seminggu = Israel = Electronic Money (Chemtrail?)

                       37 hari = Zaman seperti hari kita, iaitu zaman kemunculan Dajjal dan memerintah dunia
                                        secara nyata.


                      Israel akan menguasai dunia dan menggunakan Electronic atau Chip Money. Sistem yang
                   sama diimplementasikan di Malaysia melalui cip yang diletakkan pada kad pengenalan.





Sea of Galilea


Setelah Israel menguasai dunia, Dajjal akan muncul menguasai dunia apabila Sea ofGalilea menjadi kering, iaitu lebih kurang 20-40 tahun akan datang dan akibat kegunaanpenduduk, perindustrian, projek menghijaukan padang pasir dsbnya.


Ini peringkat akhir Gog & Magog World Order dan mengikut hadis yang menyatakan


“…Kemudian datang pula segolongan yang lain (dari kalangan mereka) lalu mereka

berkata : “Dulunya terdapat air di sini”…” (HR Muslim).


Ianya turut dijelaskan melalui hadis mengisahkan Tamim Ad-Dari bertemu Dajjal danbertanyakan mengenai air ‘Sea of Galilea’ (HR Muslim) (Sesiapa yang percaya Ya’juj &Ma’juj belum keluar maka apakah penjelasan mereka jika air Sea of Galilea telah keringsebelum Ya’juj & Ma’juj belum keluar?).

Sepanjang tempoh sebelum ketibaan Dajjal, Peperangan Dunia III dan kekejaman
berleluasa serta berlarutan lebih kurang 19 tahun sehingga ketibaan Imam Mahdi dan Nabi Isa.


Penyakit menjadi-jadi (Bio-war dan Sistem) dengan penciptaan bakteria
makmal seperti AIDS, selesema burung dan babi, serta radiasi peperangan nuklear.



Immunisasi badan manusia turut menjadi rosak dan tidak mampu menahan serangan kerana bertahun mengambil antibiotik, vaksin, makanan berkimia, air berklorin dan sebagainyanya.
Oleh sebab itu,ini lah masa yang tepat untuk kita bertaubat

Huh? What does it mean to maintain "humanity" under 500 m 


Huh? What does it mean to maintain "humanity" under 500 million?




Akhirnya Ya’juj & Ma’juj dan golongannya mati kerana badan tiada immunisasi menahan serangan atau kesan daripada radioaktif peperangan nuklear, iaitu mati semudah   serangan “…ulat-ulat menyerang batang leher Ya’juj wa Ma’juj itu,mereka pun mati
bergelimpangan dengan serentak seperti matinya satu jiwa…”.
Setelah itu Islam menguasai pemerintahan dunia berserta kemewahannya, mungkin
kerana dunia menjadi kosong akibat ramai yang telah mati.

 
 Effect of nuclear radiations in miles


Rujukan lain yang agak menarik menyatakan kemunculan Dajjal pada tahun 2033. Inikerana Rasulullah saw menyatakan kehidupan Dajjal semasa 3 peringkat pertama tidakseperti hari-hari kita, dan meminta menghitung harinya.
Apakah maksud ini? Maksudnya kita perlu membuat kiraan matematik dan menghitunguntuk mendapatkan tarikh kemunculan Dajjal. Oleh itu persoalannya ialah apakah jumlahhari selain hari kita? Jawapannya terkandung dalam surah al-Hajj:47


“…Dan (katakanlah kepada mereka): sesungguhnya satu hari dari hari-hari azab di sisi
Tuhanmu adalah menyamai seribu tahun dari yang kamu hitung...”;al-Hajj:47
Kini kita menemukan fakta 1 hari bersamaan 1,000 tahun, dan fakta lain ialah terdapat 12bulan atau 52 minggu di dalam setahun. Selainnya tahun dikira mestilah mengikut tahunHijrah dan bukan tahun Gregorian. Hanya Allah berkuasa menentukan kiraan masa danbilangan tahun.


“…Dia lah yang menjadikan matahari bersinar-sinar (terang-benderang) dan bulanbercahaya, dan Dia lah yang menentukan perjalanan tiap-tiap satu itu (berpindah-randah) pada tempat-tempat peredarannya masing-masing) supaya kamu dapatmengetahui bilangan tahun dan kiraan masa…”;al-Yunus :5
Oleh itu kehidupan Dajjal semasa berada di dimensi lain adalah mengikut tempoh di
bawah:

1 hari = Setahun = 1,000 tahun1 hari = Sebulan = 1,000 tahun/12 (bulan) = 83 tahun1 hari = Seminggu = 1,000 tahun/52 (minggu) = 19 tahun
Dari kiraan kita mendapati kehidupan Dajjal selama 1,000 tahun pada peringkat atau
 dimensi pertama, 83 tahun pada dimensi kedua, dan 19 tahun pada dimensi ketiga. Teori kiraan mengikut tahun Hijrah menyatakan Ya’juj & Ma’juj memecah tembok pada tahun353 Hijrah (965 AD) (Khazar mula aktif berdagang pada 850 AD).


Oleh itu:
353 Hijrah + 1,000 tahun = 1353 Hijrah (1935 AD)
= Zaman Dajjal menguasai Europe & kejatuhan British
1353 Hijrah + 83 tahun = 1436 Hijrah (2014 AD)
= Zaman Dajjal menguasai Amerika dan peralihan kepada Israel (bermulanya
Perang Dunia III)
1436 Hijrah + 19 tahun = 1455 Hijrah (2033 AD)
= Zaman Dajjal menguasai Israel dan penderitaan Perang Dunia III yang
berpanjangan
= Kemunculan Imam Mahdi & Nabi Isa


Walaubagaimanapun kesemua kiraan tarikh sekadar teori dengan kebenaran tarikh sebenar yang belum terbukti. Kebenaran yang telah terbukti ialah tembok menyekat Ya’juj & Ma’juj terbuka dan mereka meluru turun dari kuasa pemerintahan (al-Anbiyaa’:95-96). Bukti jelas yang lainnya ialah tuhan yang mereka sembah adalah Lucifer (Iblis). Kebenaran lain yang terbukti ialah tembok tidak berupaya ditebuk dandinyatakan ayat 97 surah al-Kahfi telah ditebuk dan berlubang semenjak zamankehidupan Rasulullah saw.

Kebenaran terbukti ialah Ya’juj & Ma’juj telah dilepaskan dan menguasai setiap pelusuk pemerintahan dunia, dan disokong oleh kuasa dari gologanYa’juj & Ma’juj (Children ofGog & Magog). Kebenaran terbukti ialah mereka telah hampir menawan seluruh bumiPalestine dan Sea of Galilea telah menjadi semakin kering. Oleh itu sama-samalah nantikan kedatangan janji Allah swt.


Maksudnya: “…Katakanlah (wahai Muhammad); “Nyawa kamu akan diambil oleh  Malikil Maut yang ditugaskan berbuat demikian ketika habis ajal kamu, kemudian kamuakan dikembalikan kepada Tuhan kamu”. Dan sekiranya engkau melihat ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhan mereka: “WahaiTuhan kami, kami telah melihat dan mendengar dengan sejelas-jelasnya; makakembalikanlah kami ke dunia supaya kami mengerjakan amal-amal yang baik;sesungguhnya kami sekarang telah yakin”.


Dan (bagi menolak rayuan itu Allah Taala berfirman): “Kalaulah Kami telah tetapkan persediaan, nescaya Kami berikan kepada tiap-tiap seorang akan hidayah petunjuknya;tetapi telah tetap hukuman seksa dariKu: `Demi sesungguhnya! Aku akan memenuhineraka Jahannam dengan semua jin dan manusia.


(Lalu dikatakan kepada mereka: “Oleh sebab kelalaian kamu) maka rasalah azab seksakerana kamu melupai pertemuan hari kamu ini. Sesungguhnya Kami pun tidak hiraukankeselamatan kamu lagi; dan rasalah azab yang kekal dengan sebab apa yang kamu telahkerjakan“.
Sesungguhnya yang sebenar-benar beriman kepada ayat-ayat keterangan Kami HANYALAH orang-orang yang apabila diberi peringatan dan pengajaran dengan ayat-ayat itu, mereka SEGERA merebahkan diri sambil sujud (menandakan taat patuh), dan menggerakkan lidah dengan bertasbih serta memuji Tuhan mereka, dan mereka pula tidak bersikap sombong takbur…”; al-Quran: as-Sajdah:11-15

Kajian Hadis Rasullulah Tentang Kiamat- Yakjud Makjud Sudah Dilepaskan PART(2)


Anda boleh merujuk buku bagi memahami maksud “tembok yang menyekat Ya’juj & Ma’juj”. Tembok tersebut dipanggil sebagai Daryal Gorge/Iberian Gates/Caucasian Gates, iaitu tembok diperbuat daripada besi bercampur tembaga. Rombongan telah dihantar mencari tembok dibina Zulkarnain pada tahun 50 H dan menemui tembok telah musnah sepenuhnya.
Saya turut ingin berkongsi pendapat peribadi mengenai tembok menyekat Ya’juj & Ma’juj (sekatan). Sekatan lain ke atas puak Yahudi Khazar ialah sebelum Peperangan Waterloo (1815). Pada zaman itu mereka dilayan hina, dan Nathan Mayer Rothschild (1777-1836) membiayai England dalam peperangan menentang Napoleon. Di antara tuntutan Rothschild sebagai balasan ialah Yahudi diberi hak dan perlindungan sama rata. Semenjak itu Rothschild menguasai Bank of England dan Yahudi Khazar hidup bebas.
Tiada lagi sekatan dan mereka 100% bebas menguasai dunia. Mereka bekerjasama dengan Knights Templar (Freemason) bagi mengatur perancangan supaya orang Yahudi berupaya pulang ke Israel dan membentuk sebuah negara bebas. Mereka merancang penjajahan negara lain dan memberi kemerdekaan setelah menukarkan sistem negara, menguasai industri utama dan meletakkan orang-orang mereka di dalam negara jajahan.Mereka malahan bekerjasama membentuk sistem perbankan, pertubuhan dan pelbagai badan menguasai dunia dan seluruh aspek kehidupan kita pada hari ini.
Persoalan 5: Siapakah “golongan” Ya’juj & Ma’juj?An Islamic View of Gog and Magog in the Modern World: Chapter 7


Steven Spielberg (Salah Seorang Yahudi Khazar)
Kita mengenali Yahudi Khazar sebagai bangsa Ya’juj & Ma’juj. Persoalannya hadis menyatakan bilangan mereka 999 daripada setiap 1,000 orang, dan mereka ini pula adalah manusia. Oleh itu siapakah manusia yang bermaksud 999 setiap 1,000 manusia? Siapakah Ya’juj & Ma’juj yang tidak terhitung banyaknya? Dalam erti kata lainnya, siapakah “manusia tidak terhitung”?

Jawapannya semua manusia yang termasuk golongan mereka. “Golongan” Ya’juj & Ma’juj ialah manusia seperti saya, keluarga saya, anda dan keluarga anda, pemimpin dan ulama yang anda sanjung dan semua manusia di dunia, iaitu mereka yang melaksanakan sistem diperkenalkan mereka ke dalam sistem di dalam negara kita. Siapakah lagi yang selama ini melakukan kerosakan jika bukan manusia yang mengamalkan sistem mereka?
Oleh itu 99.9% manusia adalah tergolong sebagai “golongan Ya’juj & Ma’juj” (Children of Gog & Magog) kerana melaksanakan sistem mereka. Akibat daripada ini lahirlah Ya’juj & Ma’juj berbangsa barat, melayu, india, cina dan semua bangsa yang melaksanakan sistem Ya’juj & Ma’juj. Dakwaan ini dijelaskan melalui surah al-Maa’idah:51:

“…Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani itu sebagai awliya, kerana setengah mereka menjadi teman rapat kepada setengahnya yang lain; dan sesiapa di antara kamu yang menjadikan mereka awliya, maka sesungguhnya ia adalah dari golongan mereka itu…”; al-Maa’idah:51
Keterangan merujuk hari ini. Ini kerana Yahudi dan Kristian tidak menjadi teman rapat pada zaman dahulu. Sebab utama ialah Kristian mendakwa Yahudi bertanggung-jawab membunuh Jesus, iaitu tuhan mereka. Namun itu pada hari ini dan semenjak Peperangan Waterloo (1815) di antara England dan France, mereka bekerjasama.

Image no: NUL116877 Credit: Battle of Waterloo, 18th June 1815, 1898 (colour litho) by Sullivan, William Holmes (fl.1870-d.1908) Private Collection / The Bridgeman Art Library Nationality / copyright status: English / in copyright until 2021 PLEASE NOTE: This image is protected by the artist's copyright which needs to be cleared by you. If you require assistance in clearing permission we will be pleased to help you.

Ya’juj & Ma’juj telah terlepas daripada sekatan kemanusiaan dan bekerjasama dengan Kristian bagi membentuk pelbagai sistem untuk menguasai dunia. Mereka membentuk “Gog & Magog World Order”.
Oleh itu apakah maksud “adalah dari golongan mereka” apabila hidup di zaman “Gog & Magog World Order” dan mereka bekerjasama menguasai dunia? Pertamanya hanya terdapat dua golongan utama, iaitu golongan orang Islam atau golongan Ya’juj & Ma’juj. Keduanya ia bermaksud sesiapa yang mengambil dan melaksanakan sistem mereka akan terkeluar dari golongan orang Islam dan menjadi golongan Ya’juj & Ma’juj. Allah akan membiarkan manusia mati sebagai golongan Ya’juj & Ma’juj kerana menyokong perlaksanakan sistem dan cara kehidupan mereka. Maksud selainnya ialah kita menerima nasib sama seperti mereka, iaitu kekal di neraka selamanya.

Selainnya ada yang berkata ini tidak mungkin kerana banyak yang bersyahadah dan melakukan solat, berpuasa, zakat dan menunaikan haji. Perlu diingatkan kembali keterangan al-Maaidah:51 menyatakan “Wahai orang-orang yang beriman!”, iaitu bermaksud mereka ini bukan sekadar Islam dan melakukan Rukun Islam, tetapi mereka malahan memenuhi semua rukun menjadi orang beriman. Mereka adalah orang beriman yang bergetar hati apabila sekadar hanya mendengar nama Allah swt.
Maka orang beriman yang melaksanakan sistem mereka akan menerima nasib yang sama. Berdasarkan alasan ini maka hadis yang menyatakan Ya’juj & Ma’juj tidak terhitung dan 999 setiap 1,000 orang menjadi benar dan munasabah (samada kiraan berdasarkan “seorang dari sahabat” dan 999 dari kita? atau kiraan mengikut nisbah penduduk setiap zaman? Wallahualam).


Fakta ini malahan disokong fakta riba wang kertas dan transaksi melibatkan bank. Ini kerana surah al-Baqarah menyatakan pengistiharan peperangan oleh Allah swt dan Rasulullah saw ke atas orang yang mengambil riba, membayar riba, penulis riba dan saksi kepada perjanjian riba.
“..Oleh itu, kalau kamu tidak juga melakukan (perintah mengenai larangan riba itu), maka ketahuilah kamu: akan adanya PEPERANGAN dari Allah dan RasulNya…”; al-Baqarah:279
“..Dan sesiapa yang mengulangi lagi (perbuatan mengambil riba itu) maka mereka itulah ahli neraka, mereka KEKAL di dalamnya…”; al-Baqarah:275

Bagaimana seseorang tidak malu mengaku beriman apabila statusnya sedang berperang menentang Allah swt dan Rasulullah saw? Ini satu pengakuan tidak munasabah dan iman sangkaan semata-mata (prasan). Maka melalui surah ini 99.9% bangsa dan golongan Ya’juj & Ma’juj dimasukkan ke neraka serta kekal di dalamnya.
Keterangan Surah Al-Baqarah sepatutnya membuatkan hatinya seakan-akan tercabut kerana kedasyatannya. Namun itu bagi golongan Ya’juj & Ma’juj, kesemua ini tidak mendatangkan ketakutan dan menjadi hiburan menghalalkan yang haram. Mereka sentiasa sahaja mempunyai alasan untuk menyelisihinya.
Kepada yang beriman, fakta dan Gog & Magog World Order adalah ujian tersangat sukar. Sudah tentu dan siapakah tidak berakal menyangka Allah swt memberikan ujian mudah ke syurga? Soalan di sini sahaja telah pun membingungkan manusia menjawabnya, maka tidak dapat dibayangkan pula apabila Allah swt pula menyoal di akhirat.

Dengan ujian kehidupan yang berat maka Rasulullah saw menyatakan akan datang kepada umat ku suatu zaman di mana orang yang berpegang kepada agamanya laksana menggenggam bara api. Rasulullah saw dengan itu memberi “perintah yang sangat tegas” untuk meninggalkan semua puak walau terpaksa berpaut kepada akar pokok hingga mati, bemaksud pilihan mati bagi memelihara keimanan jauh lebih baik daripada menjadi golongan Ya’juj & Ma’juj.
Ianya juga perjuangan yang selari dengan cerita Ashaab’ul-Kahfi dan Ar-Raqiim di dalam Surah Al-Kahfi, iaitu pilihan antara “keimanan” atau “kehidupan dunia tanpa iman”. Dalam hadis lain pula Rasulullah saw memberikan gambaran kehidupan orang beriman:

Daripada Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah saw. bersabda,“…Selagi akan datang suatu masa di mana orang yang beriman tidak akan dapat menyelamatkan imannya, kecuali bila ia lari membawanya dari suatu puncak bukit ke puncak bukit yang lain dan dari suatu lubang kepada lubang yang lain. Maka apabila zaman itu telah terjadi, segala pencarian (pendapatan kehidupan) tidak dapat dicapai kecuali dengan perkara yang membabitkan kemurkaan Allah swt…”. (HR Baihaqi)


Keterangan lain yang menyokong seperti yang terkandung di dalam Surah An-Nisaa:97
Maksudnya:“..Sesungguhnya orang-orang yang diambil nyawanya oleh malaikat semasa mereka sedang menganiaya diri sendiri (kerana enggan berhijrah untuk membela Islam dan rela ditindas oleh kaum kafir musyrik), mereka ditanya oleh malaikat dengan berkata: “Apakah yang kamu telah lakukan mengenai agama kamu?” Mereka menjawab: Kami dahulu adalah orang-orang yang tertindas di bumi. Malaikat bertanya lagi: “Tidakkah bumi Allah itu luas, yang membolehkan kamu berhijrah dengan bebas padanya?” Maka orang-orang yang sedemikian itu keadaannya, tempat akhir mereka ialah neraka jahanam, dan neraka jahanam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali..”; al-Quran: An-Nisaa:97
Berdasarkan di atas maka orang beriman tiada sebarang alasan yang sah pada hari akhirat. Rasulullah saw juga telah memberikan perintah khusus dan mengingatkan mereka, maka itu tidak haruslah orang beriman mempunyai ketetapan lain:


“…dan tidak harus bagi orang beriman, lelaki dan perempuan — apabila Allah dan RasulNya menetapkan keputusan mengenai sesuatu perkara — mempunyai hak memilih ketetapan sendiri mengenai urusan mereka. Dan sesiapa yang tidak taat kepada hukum Allah dan RasulNya maka sesungguhnya ia telah sesat dengan kesesatan yang jelas nyata…”; al-Ahzaab:36